Tampilkan postingan dengan label Kata-Kata Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata-Kata Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Berpikir Dan Beryukur

Apabila Anda mau mengingat nikmat-nimkat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada diri Anda, tentulah Anda akan mendapatinya meliputi diri Anda, mulai dari bagian yang paling atas dari kepala hingga bagian paling bawah dari kedua telapak kaki Anda.
Kesehatan jasmani, sandang, pangan, udara, air, dan sebagainya. Anda memiliki dunia ini namun Anda tidak menyadarinya, dan Anda memiliki kehidupan ini namun Anda tidak mengetahuinya.

"Anda dianugerahi sepasang mata, lisan, sepasang bibir, kedua tangan, dan kedua kaki."


  • Apakah Anda menganggap hal yang mudah, berjalan dengan telapak kaki Anda, sementara di luar sana banyak telapak kaki lain yang diamputasi?
  • Apakah anda menganggap remeh bila Anda dapat tidur dengan nyenyak, sementara di sana banyak orang lain yang susah tidur karena penderitaan yang dialaminya?
  • Memangnya mudah mengisi perut dengan berbagai makanan lezat dan meneguk minuman sejuk, sementara di sana ada sebagian orang yang mengalami hambatan untuk menyantap makanan dan meneguk minumannya karena penyakit dan gangguan yang dideritanya?


Pikirkanlah pendengaran Anda yang begitu peka karena terhindar dari ketulian.
Renungkanlah penglihatan Anda yang begitu tajam terbebas dari kebutaan.
Lihatlah kulit Anda yang begitu mulus; sesungguhnya ia terhindar dari penyakit sopak, lepra, dan penyakit kulit lainnnya.
Perhatikan akal Anda yang begitu sehat; sesungguhnya Anda mendapat nikmat yang tak terhingga karena kesehatan dan tidak menderita karena terserang penyakit gila atau gangguan kejiwaan lainnya.

Maukah Anda bila hanya indera penglihatan Anda semata ditukar dengan emas sebesar bukit Uhun hingga Anda menjadi buta?
Sukakah Anda bila indera pendengaran Anda dijual dengan perak sebesar bukit Tsahlan hingga Anda menjadi tuli?
Maukah Anda bila lidah Anda ditukar dengan istana Zahra hingga Anda menjadi bisu?
Maukah kedua pergelangan tangan Anda yang utuh diamputasi dengan imbalan beruntai-untai kalung mutiara dan berlian hinggga Anda menjadi orang yang buntung telapak tangannya?

Sebenarnya Anda bergelimangan di dalam nikmat dan karunia yang besar, namun Anda jalani hidup tidak menyadarinya. Kenapa Anda jalani hidup ini dengan susah, gelidah, sedih, padahal mudah bagi Anda mendapatkan makanan yag hangat dan air yang segar? Anda masih dapat tidur dengan nyenyak dan dikaruniai kesehatan jasmani yang bugar.

Kesalahannya adalah memikirkan nikmat yang tidak Anda miliki dan tidak pernah mensyukuri nikmat yang Anda miliki. Anda terkejut karena mengalami kerugian materi, padahal Anda memiliki kunci kebahagiaan, segudang kebaikan, bakat, nikmat, dan segala sesuatu yang lainnya. Oleh karena itu, gunakan pikiran Anda untuk mensyukuri nikmat yang Anda miliki.

Sabtu, 19 Januari 2013

Motivas (Menembus Kabut Kehidupan)


Sebuah percakapan terjadi ketika seorang majikan dengan sopirnya melewati jalanan berkabut dan  tepian jurang

“Hati-hati pak, jangan lupa berdoa.” Kata majikan.

“Iya.” Jawab sopir pendek, tanpa mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

“Kita cuma bisa melihat 7 meteran ke depan, jadi tidak usah kencang-kencang mengemudikannya.”  Si majikan mencoba mengajak bicara agar suasana tidak tegang.

“Saya pernah mengemudikan mobil dalam kabut lebih pekat dari ini bu.” Katanya mencoba menenangkan diri.

“Lho bagaimana kamu tahu batas jalan dan tepian jurang?” majikan bertanya.

“Terus terang saya tidak tahu mana batasnya bu, saya hanya melihat marka jalan aspal di sisi kanan, dan mencoba sedekat mungkin dengan marka dan berjalan menuruti marka itu.” Jelas si sopir

“Terus bagaimana kalau pandangan hanya 7 meter ke depan seperti itu?” Tanya majikan  kembali.

“Tujuh meter di depan kita, kalau kita jalani kan selalu ada tujuh meter didepannya.” Jawab si sopir dengan entengnya.

Dan akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat.



Sebenarnya hidup manusiapun akan selamat  dijalani apabila orang punya keyakinan bahwa apa yang kelihatan tidak jelas di ujung sana akan dapat terlampaui kalau kita mau menjalaninya sebatas apa yang jelas di depan kita, dan tetap patuh pada marka yang membatasi jalan tersebut.

Kita jalani dengan sabar apa yang tampak, meski setapak, dan kita abaikan sisi kiri yang tidak jelas batas jalan atau tepian jurang.